Sabtu, 05 Juli 2014

Tarian Male Sau' Puya ditampilakan di ISI Yogyakarta

Male sau' puya. Adalah satu kalimat Toraja yang sudah tidak asing lagi terdengar bagi masyarakat Toraja. Male sau' puya dapat diartikan kepergian seseorang (meninggal). Zhaki Hakim mahasiswa pascasarjana Institut Seni Yogyakarta Indonesia (ISI) membuat sebuah garapan tari dengan tema "Male Sau' Puya" yang kemudian dipentaskan di gedung fakultas seni pertunjukan ISI sebagai ujian akhir tanggal 24/06/2014. Menariknya karya ini melibatkan begitu banyak penari dan pemusik yakni 35 penari dan 9 pemusik. Kurang lebih 20 diantaranya adalah anggota IKAPMAJAYA yakni Zhyta Larasati Pala'langan, Aminda Bandaso Karurukan, Julianto Tumangke, Artur Pareang, Bintang Salempang, Edgar Marchiano La'lang, Elkyanus Pallullungan, Febriergi Linus Tipa, Gerardo Eqidius Iyuri Kala' Lembang, Ignatius Patulak, Jhon Leonardo S, Junianto, Maikel Kevin Lomo, Michael Daud Tonda, Muliono Daliapang, Novianto Arung Tinting, Oky Alfian Kalalinggi, Otniel Suandi Tappang, Rendy Lukas Renta, Septian P. Pumpun, Usia Rante Allo, Yonathan Talantan

Inspirasi Penulis
Penulis terisnpirasi tentang suatu warisan budaya tradisi yaitu ritual upacara pemakaman Rambu Solo’ yang berada di Kabupaten Tana Toraja, Provisnsi Sulawesi Selatan. Penata tari mengambil tema dari upacara Rambu Solo’ (Dirapai’) yaitu mengantarkan jenazah ke puya dengan memfokuskan prosesi Umbating (meratapi orang mati) dan Ma’badong (meratapi sekaligus menghormati). Pada upacara Dirapai’, Umbating (meratapi orang mati) dan Ma’badong merupakan dua bagian yang selalu dihadirkan. Kedua bagian ini menginspirasi penulis untuk menjadikannya sebuah karya tari.

Gagasan tari “Male Sau’ Puya”
Gagasan dalam menggarap tari berjudul “Male Sau’ Puya” sangat terkait dengan budaya orang Toraja dalam melakukan upacara pemakaman yang disebut Rambu Solo’. Di sini penata tari mencoba mengangkat upacara pemakaman Rambu Solo’ (Dirapai)’ tersebut dengan penekanan pada tahapan yang selalu dilakukan dalam upacara Rambu Solo’ (Dirapai’) yaitu Umbating (meratapi orang mati) dan Ma’badong, ke dalam garapan bentuk tari semi-tradisional dengan mengembangkan motif gerak tari Pagellu’, Ma’landing, dan Ma’badong.

Arti “Male Sau’ Puya”
Dalam penggarapan koreografi yang diberi judul Male Sau’ Puya yang berasal dari bahasa Toraja yang artinya menuju puya. Puya adalah tempat ketinggian, di gunung atau di langit yang dianggap sebagai tempat keabadian hidup setelah dunia nyata.
Umbating (meratapi orang mati) dan Ma’badong yang menjadi titik perhatian, divisualisasikan menjadi adegan kedua dan adegan kelima. Umbating hadir sebagai adegan kedua dimaksudkan untuk membawa suasana atau mengajak penonton masuk ke dalam suasana upacara kematian itu sendiri yang secara langsung mencerminkan kesedihan dari keluarga si mati. Sementara Ma’badong yang selalu dihadirkan dalam upacara Dirapai’, berisi nyanyian dan tarian sebagai ekspresi mengenang perjalanan hidup si mati, akan divisualisasikan pada adegan kelima. Penempatan Ma’badong yang memvisualisasikan gerak-gerak lambat dengan paduan vokal di adegan kelima dalam struktur karya ini, selain dimaksudkan untuk memberi kontras terhadap gerak-gerak yang cenderung cepat pada adegan dua, tiga dan empat juga sebagai adegan untuk mengatur stamina sebelum masuk kembali pada gerak-gerak yang cepat pada adegan ke enam.

Peristiwa yang ditarikan/adegan
Tipe dramatari dan dramatik yang sebagai penguat dalam karya Male Sau’ Puya selain prosesi Umbating (meratapi orang mati) dan Ma’badong berikut adegan lainnya sebagai adegan dalam mengantar jenazah menuju puya terdiri dari: (a) Arak-arakan keranda mayat; (b) Umbating; (c) Ma’pasilaga Tedong; (d) Ma’tapia’; (e) Ma’badong; dan (f) Ma’pasonglo.
Penyajian karya tari Male Sau’ Puya menggunakan motif gerak hasil pengembangan dari tari tradisi etnik Toraja yaitu tari Pa’gellu dan Pa’landing mengingat bahwa karya tari ini memfokuskan prosesi Umbating (meratapi orang mati) dan Ma’badong, serta prosesi Ma’tapia dan Ma’pasonglo dalam upacara pemakaman Rambu Solo’ (Dirapai’). Koreografi ini menggunakan busana daerah Tana Toraja yang sudah dimodifikasi untuk menyesuaikan artistik koreografi, meskipun tarian ini bertemakan upacara kematian, tetapi penata tari memilih menggunakan rias cantik agar penari putri tetap kelihatan cantik dan segarpada penari putrid. Sedangkan bagi penari putra, menggunakan rias natural agar tidak kelihatan pucat.

Bentuk Penampilan
Garapan karya tari ini menggunakan konsep stage proscenium sebagai ruang pertunjukan utama, agar penonton dapat melihat dengan fokus dari satu arah. Penaat juga sudah terbiasa dan lebih nyaman ketika menggarap tari dengan konsep keruangan seperti ini, karena dapat fokus disetiap bagian garapannya.


Berikut dokumentasinya

Penulis: Michael Daud T

123 Fakta Unik Mahasiswa Jogja

Bangun pagi nemu dan baca tulisannya CAHYOGYA.COM jadi ketawa-ketawa sendiri.hahhaaa.. Sebagian besar faktanya benar dab setelah coba dikondisikan dengan anggota IKAPMAJAYA. Maka kamu yg belum merasakan hal-hal ini cari lah tempat dan teman yg bisa membawa kamu merasakannya jika kamu tdk mau dicibir ngapusi perna kuliah di Jogja.


Kuliah di Jogja identik dengan kuliah di UGM, berkonvoi ramai-ramai bareng teman satu jurusan atau satu organisasi ke pantai atau makrab ke kaliurang. Itu merupakan sedikit gambaran bagaimana rasanya menjadi mahasiswa di kota Yogyakarta, baik itu mahasiswa perantauan atau asli Jogja hampir semua memiliki kesamaan dalam setiap aktivitas yang pernah mereka lakukan selama masa-masa kuliah, kalau menurut saya tulisan mengenai 123 Fakta Unik Mahasiswa Jogja dari bang ariesadhar ini sangat menyentuh sekali, bikin kita tertawa sendiri kalau ingat hal-hal yang disebutin. Kalau kamu mahasiswa jogja atau calon mahasiswa Jogja wajib baca artikel ini.

1. Mahasiswa Jogja adalah lulusan sekolah menengah (ya iyalah!)

2. Mahasiswa Jogja justru lebih banyak yang tinggal dan kuliah di Sleman
Faktanya: Angelina Pangala, Suhartati Mentari, Surya etc
3. Atau Bantul
Faktanya: Reza, Anno, Indri na senga'2 na..
4. Dan tetap ngaku-ngaku kuliah di Jogja!
5. Sebagian mahasiswa Jogja adalah perantauan
yah iyalahh
6. Baik itu merantau dari Muntilan
7. Atau Sintang
8. Atau bahkan dari Merauke
9. Hingga Filipina
10. Sebagian mahasiswa Jogja yang perantauan adalah lulusan SMA-SMA yang juga ada di Jogja
11. Jadi intinya mereka merantau sejak SMA
12. Pada intinya mereka gagal move on
13. Tak bisa ke lain kota
14. Mahasiswa Jogja yang perantauan umumnya mudik waktu libur semester

15. Atau pada libur lebaran
16. Kecuali mahasiswa yang kere (kayak saya dulu)
17. Makanya, kalau libur lebaran, daerah kampus sepi nyenyet
18. Padahal Malioboro macet total
19. Sebagian mahasiswa Jogja datang tanpa pengetahuan bahasa Jawa
Tongan to..
20. Jenis mahasiswa yang ini adalah korban jebakan betmen boso jowo
21. Semisal, “Kulo segaw*n”
22. Atau, “Ayo, k*nt*”
wuanjriittttt
23. Sebagian mahasiswa Jogja tempoe doeloe pernah ke lantai atas gedung perpus UGM, cuma mau kirim-kirim salam di Swaragama
24. Atau SMS kirim-kirim salam ke Geronimo
25. Mahasiswa Jogja pasti familar dengan soundtrack acara memori di Yasika
26. Dan juga tagline GCD FM Bukit Pathuk Gunungkidul, radio yang sebaiknya anda tahu! Ting tung ting tung!
27. Harap maklum, hanya punya radio sebagai hiburan di kos-kosan
28. Sebagian kecil mahasiswa Jogja yang perantauan tinggal di rumah saudaranya
29. Sebagian besarnya kos
30. Ada yang juga di asrama

31. Yang jelas nggak ada yang nginep di hotel
32. Oh, kecuali yang mahasiswa S2 ya!
33. Sisanya, tentu saja asli Jogja
34. Yang asli Jogja umumnya pernah tidur siang di kos-kosan temannya
35. Atau nginep
36. Yang ngekos pernah numpang makan di rumah temannya
37. Atau numpang tidur

38. Ehm, selain di kos-kosan teman, kadang-kadang juga di kos-kosan pacar
39. Bisa dilihat dari hadirnya sandal wanita di kos pria
40. Dan sandal pria di kos wanita
41. *kenyataan memang kadang bikin geleng-geleng*
42. Belum sah jadi mahasiswa Jogja kalau belum pulang dinihari
43. Dengan alasan, “dolan!”
44. Mahasiswa Jogja pasti pernah makrab di Kaliurang

45. Atau sekitar Kalikuning
46. Ya pokoknya ngadem di kaki Merapi
47. Mahasiswa Jogja pernah ke pantai

48. Biasanya sih naik motor rame-rame
49. Mahasiswa Jogja pasti tahu Terban
Boce ahlihnya 50. Dan juga Shopping
51. Atau setidaknya Toko Buku Social Agency
52. Yang nggak pernah ke 3 tempat itu, pasti anak horangkayah
53. Mahasiswa Jogja pasti pernah ke Sunday Morning
54. Kalau nggak? Nggak gaul
55. Padahal cuma ngeceng doang
56. Mahasiswa Jogja, utamanya yang lelaki, pasti pernah ke burjo
57. Bahkan kenal dengan Aa burjonya
58. Kadang malah punya nomor HP Aa-nya
59. Lalu galau waktu Aa-nya mudik lebaran bisa sampai 2 minggu
60. Mahasiswa Jogja, pasti pernah ke angkringan
61. Bahkan kenal dengan Mas-Mas Angkringannya
Pa' TRI is the best
62. Kadang malah punya nomor HP Mas-Mas-nya
63. Mahasiswa Jogja pernah kalap pesan makanan di angkringan
64. Tapi pernah pesen teh anget segelas, terus ngobrolnya 4 jam
65. Mahasiswa Jogja mestinya tahu angkringan Tugu
66. Termasuk kopi joss-nya!
67. Mahasiswa Jogja pasti tahu kepanjangan dari Intel Goreng
68. Atau Tante Rebus
69. Kalau nggak tahu, pasti juga anak horangkayah
70. Mahasiswa Jogja masa lalu pasti heran dengan ramainya selokan Mataram sekarang
71. Mahasiswa Jogja masa kini pernah makan di salah satu destinasi di sepanjang selokan Mataram
72. Mahasiswa Jogja selalu nongkrong di fotokopian pada masa menjelang ujian
73. Tidak semua mahasiswa Jogja pernah ke Gembira Loka
74. Tapi hampir semuanya pernah ke Alkid
75. Sebagian mahasiswa kere akan mampir beli awul di Sekaten
76. Sebagian mahasiswa Jogja pernah foto berlatar Tugu
77. Kalau mahasiswa Jogja jadul pernah duduk di Tugu
78. Yang masa kini iri hati, soalnya udah nggak boleh
79. Belum afdol jadi mahasiswa Jogja kalau belum pernah kena cegatan
80. Ketiklah ‘fakta mahasiswa jogja’ di Google dan yang keluar kebanyakan tentang seks bebas
81. Mahasiswa Jogja nggak pernah pesan ‘es teh manis’
82. Karena di Jogja ‘es teh’ sudah berarti ‘es teh manis’
83. Sebagian mahasiswa Jogja memulai karier enterpreneur-nya sewaktu kuliah
84. Mahasiswa Jogja memenuhi antrean ATM di kampus-kampus pada tanggal muda
85. Mahasiswa Jogja kepepet akan mendatangi ATM 20 ribu
86. Selalu ada mahasiswa Jogja yang ke kampus dengan naik sepeda
87. Dan selalu ada yang ke kampus dengan diantar supirnya
88. Adalah mahasiswa Jogja tempoe doeloe jika masih berangkat kuliah naik angkot warna kuning
89. Mahasiswa Jogja yang dari rantau, kebanyakan stres pada makanan Jogja
90. Soalnya rata-rata manis
91. Kayak kamu! #eh
92. Apalagi mahasiswa Jogja yang berasal dari Sumatera atau daerah lain yang terbiasa dengan makanan gurih
93. Kalau mahasiswa Jogja ditanya “kuliah dimana?”, lalu dijawab “Jogja!”, pasti dikira kuliah di UGM
94. Padahal ada banyak universitas, institut, akademi, dan sekolah tinggi di Jogja
96. Ya mau gimana lagi, udah trademark-nya sih
97. Buku Oom Alfa adalah cerita seorang mahasiswa Jogja #faktapenting2014
98. Sepeda motornya mahasiswa Jogja bervariasi mulai dari Pitung sampai Ninja dan CBR terbaru
99. Sebagian mahasiswa Jogja pernah bikin duplikat kunci di dekat De Britto
100. Kalau pas orangtua datang ke Jogja, pasti ujung-ujungnya adalah jalan-jalan ke Malioboro
101. Atau Candi Prambanan
102. Atau Borobudur
103. Yang jelas bukan ke Sarkem
104. Sebagian mahasiswa Jogja tahu tempat dugem
105. Tapi nggak pernah masuk, soalnya kere
106. Selalu ada mahasiswa Jogja yang sampai lulusnya nggak bisa ngomong pakai bahasa Jawa
107. Kalau udah mau lulus, mahasiswa Jogja mendadak mellow saat mendengar “Yogyakarta”-nya KLA Project
108. Sudahlah jauh-jauh ke Jogja buat sekolah, tapi kadang kalau nyari dana malah kudu NGAMEN!

109. Lokasi ngamen favorit adalah sekitar Jakal atau Sunmor
110. Atau tempat lain yang punya tempat makan berderet-deret
111. Biasanya ngamennya keroyokan alias rame-rame
112. Makanya pengamen di Jogja yang ramean itu kece-kece, lha mahasiswa je!
113. Mahasiswa Jogja ngerasa paling kece kalau sudah ke Alkid lalu foto pakai sepeda tandem
114. Atau ngerasa paling update kalau sudah melakukan tradisi “Masangin”
115. Itu loh, jalan dari satu beringin ke beringin lain dengan mata tertutup
116. Saking populernya, sampai ada penyewan tutup mata segala
117. Kalau pas 16 Agustus malam, mahasiswa Jogja yang ngekos bakal kelaparan karena pemilik warung makan dan angkringan pada Tirakatan
118. Mau ke McD nggak punya duit pula
119. Mahasiswa Jogja kalau kefefet pasti beli bensinnya eceran
120. Cuma seliter pulak!
121. Tidak ada mahasiswa Jogja yang tidak tahu Toko Merah
122. Tapi kayaknya nih, 80,3% mahasiswa Jogja belum pernah ketemu Sultan
123. Seperti kata Anies Baswedan, bagi yang pernah hidup di Jogja, pasti merasa bahwa setiap titik di Jogja adalah romantis! Jogja memang selalu istimewa.
Sumber: http://www.cahyogya.com/2014/05/123-fakta-menarik-tentang-mahasiswa.html?m=1

Jumat, 04 Juli 2014

Penyambutan dan Malam Keakraban IKAPMAJAYA 2014

"Penyambutan dan Malam keakraban" salah satu hal yang dinanti-nantikan setiap pergantian tahun ajaran

Beberapa tahun terakhir ini IKAPMAJAYA dapat satu kegiatan yang wajib dilaksanakan karena momennya yang sangat dinanti-nantikan mahasiswa baru maupun mahasiswa aktif, apakah itu? mari kita putar waktu kita ke dua tahun lalu.

Dua tahun yang lalu tepatnya tahun 2012, IKAPMAJAYA mengadakan acara penyambutan dan malam keakraban bersama teman-teman toraja yang berasal dari berbagai kota di Yogyakarta. Dibawah kepanitiaan Inazt Patulak (ketua),  yang saat itu memimpin sebagai ketua panitia pelaksanaan acara ini menjadi momen yang sangat istimewa. Dengan perjuangan yang cukup pelik teman-teman panitia melaksanakan pencarian dana yang cukup menguras tenaga, berbagai susunan acara juga disiapakan, hingga akhirnya acara puncak yang berisi acara-acara seru nan menghibur teman-teman yaitu outbound bersama. Untuk kepanitiaan ini apresiasi yang besar tentunya didapatkan dari BPH IKAPMAJAYA sendiri serta peserta-peserta yang turut hadir dalam acara ini.
(Dokumentasi penyambutan dan makrab 2012 oleh panitia)

Berlanjut ke tahun 2013, IKAPMAJAYA mulai membentuk kembali kepanitiaan penyambutan dan makrab untuk yang kedua kalinya, berpatokan pada kepanitiaan sebelumnya yang meraih sukses besar maka kepanitiaan saat ini dengan semangat menggebu-gebu juga ingin sukses seperti tahun sebelumnya. Dan akhirnya rutinitas kepanitiaan pun mulai berjalan, mulai dari pencarian dana, penyusunan konsep, pendaftaran peserta, hingga acara berlangsung dengan sukses yang tidak kalah dengan kepanitiaan sebelumnya. Pada penyambutan dan makrab kali ini peserta yang hadir membeludak, alangkah senangnya kepanitiaan saat itu terlebih lagi BPH yang diam-diam dalam hati berteriak " Kita kedatangan anggota sebanyak ini, oh terimakasih Tuhan". Akhir kata kepanitiaan ini kembali sukses dengan acara yang mereka bentuk dengan tidak mudah.
(Dokumentasi Penyambutan dan Makrab 2013 oleh Panitia

Nah sekarang berlanjut lagi kita ke kepanitiaan penyambutan dan makrab tahun ini (2014), yang kebetulan sedang berjalan. Apa saja yang sudah mereka lakukan mari kita menanti dan melihat lebih jauh informasi persiapan dari teman-teman panitia.
Harapannya sih penyambutan dan makrab tahun ini bisa diselenggarakan dengan maksimal, dengan memastikan setiap waktu selama masa kegiatan terisi. Wacananya panitia akan melaksanakan kegiatan ini dengan sedikit berbeda dari sebelumnya yaitu dengan menyelipkan materi dasar kepemimpinan,tidak terlepas dari itu akan diadakan juga sharing tentang kehidupan akademik dikampus dan bagaimana kehidupan kemahasiswaan dalam hal ini bagaimana menjalin hubungan yang baik antar mahasiswa Toraja di Yogya dan juga dengan mahasiswa dari daerah lain. Oia ketua panitia tahun ini ada Arthur Pareang (STTNas 2011). Kita doakan persiapan seluru panitia dan rencana untuk menyukseskan kegiatan penyambutan dan makrab antar angkatan 2014 ini ya... Salam IKAPMAJAYA :D
Penulis: Hedwig

Rabu, 28 Mei 2014

Poin Rapat Umum Anggota IKAPMAJAYA

Pemimpin Rapat/Facebook.com
24-25 Mei 2014 diadakan Rapat Umum Anggota (RUA) Ikatan Pelajar Mahasiswa Yogyakarta (IKAPMAJAYA) di wisma Sejahtera 3, dihadiri oleh 48 peserta dan 28 panitia RUA.

Ketua panitia Gerardo E.J. Kala'lembang mengungkapkan rasa terima kasih kepada semua peserta dan panitia yang turut hadir dalam RUA ini. Michael Daud Tonda ketua IKAPMAJAYA periode 2012-2014 dalam sambutannya memberikan pujian kepada panitia RUA dan memberikan sedikit gambaran tentang tentang kinerja kepengurusannya selama 2 tahun.

"Manfaatkan kegiatan ini untuk pembelajaran ke depan. Ini adalah proses belajar untuk regenerasi berikutnya, semoga mendapat pembelajaran dari RUA ini," ungkap Robert Allo Barani sebagai ketua pengarah. 

Agar rapat dapat berjalan dengan baik maka dipilih beberapa orang untuk memimpin rapat. Nimrod berperan sebagai ketua, ketua wakil I Frans, wakil ketua II Agung yang kemudian terpilih sebagai ketua IKAPMAJAYA, Citra wakil ketua III, dan sekretaris Abrini Iwangga.

Nasehat Dari Tamu Undangan

Ketua KTY Cornelis Guling memberikan nasehat kepada semua peserta dan panitia yang hadir agar menghargai waktu dengan baik. Jangan sampai waktu yang mengatur, seharusnya kita yang bisa mengatur waktu. Cornelis Guling melanjutkan "Lebih baik menjadi cerdas daripada pintar" dalam sambutannya. 

Kombespol Drs. Amran Ampulembang dalam seminar singkat memberikan nasehat kepada semua peserta dan panitia yang hadir dalam RUA agar menggunakan waktu dengan sebaik mungkin agar waktu bisa digunakan untuk hal yang positif, jangan lupa menjaga keamanan Yogyakarta. Lanjutnya "Mahasiswa harus memiliki target, memiliki cita-cita dari sekarang itu sangat penting."

Student Today, Leader Tommorow

"Student Today, Leader Tomorrow" adalah tema RUA tahun 2014. Student Today berkaitan dengan RUA diharapkan setiap yang terlibat didalamnya memaknai proses belajar sebagai hal yang tidak pernah berhenti, baik secara organisasi dan struktural maupun dalam kehidupan bersama. 

Leader tomorrow berarti seorang pemimpin yang memiliki jiwa kepemimpinan. Pemimpin tidak hanya bergerak pada ranah organisasi saja namun terlebih bagaimana setiap anggota IKAPMAJAYA yang didukung dengan proses belajar dapat memimpin diri sendiri sebagai pribadi yang unggul dan dapat bersaing sebagai pemimpin yang terbekali dalam bidang masing-masing. 

RUA terutama diselenggarakan untuk reorganisasi dan reformasi struktur keorganisasian; meminta pertanggungjawaban dari presidium (Mandataris RUA); melengkapi dan menetapkan AD/ADRT dan; mengesahkan dan membubarkan organisasi. 

Rasa Terima Kasih Atas Hasil Kepengurusan Presidium 2012-2014

BPH periode sebelumnya mengakui kelemahan mereka selama memimpin IKAPMAJAYA dan berharap kepengurusan IKAPMAJAYA berikutnya lebih baik.

Dikutip dari group facebook IKAPMAJAYA (29/5), Michael Daud Tonda menuliskan "Begitu banyak pengalaman yang mengajarkan kami tentang kesabaran dan kebesaran hati untuk tetap eksis menjalankan gerak IKAPMAJAYA selama 2 tahun ini 'Mengembangkan ikatan persaudaraan, pengembangan dan penyaluran intelektualitas dan kreatifitas yang bersifat independen.'

"Terimakasih kepada alumni yang telah mendukung dalam moral dan materi untuk wujud kepedulian kepada IKAPMAJAYA. Terimakasih kepada dewan pertimbangan dan penasehat dan terimasih yang sebesar-berasnya kepada seluruh anggota IKAPMAJAYA yang senantiasa aktif mengikuti kegiatan, menjaga keakraban, tergabung dlm kepanitiaan, memberi sumbangsi pemikiran dan kreatifitas bagi organisasi kita tercinta IKAPMAJAYA kalianlah motivasi semangat kami membangun IKAPMAJAYA" tulis Michael.

Tak lupa mengucapkan terima kasih kepada panitia pelaksana RUA 2014 dan panitia pengarah (steering committee) yang luar biasa mempersiapkan materi dan mengajarkan IKAPMAJAYA dinamika persidangan yang baik, semoga bisa dikembangkan kedepannya tentang cara melakukan persidangan yang baik. Steering Commitee terdiri dari Robert Allo Barani, Stanley Risaranti, Thri Sandy Daud Tonda, Lidya K. Tandirerung, Atong Saria, Richard Reynold Mapadin, Erick Arung Patandianan, dan Christo Valentino.

Ketika menyampaikan LPJ, tidak lupa diputarkan video aktifitas IKAPMAJAYA periode 2012-2014, dapat disaksikan melalui video youtube berikut ini,




Perubahan Masa Jabatan BPH
Berdasarkan hasil voting yang dilakukan, masa jabatan BPH IKAPMAJAYA menjadi setahun, tidak seperti jabatan sebelumnya yang menghabiskan waktu selama 2 tahun.

Mereka yang pernah terlibat dalam kepengurusan IKAPMAJAYA beberapa tahun sebelumnya (bisa disebut senior karena pengalaman mereka) memberikan masukan agar masa jabatan Badan Pengurus Harian (BPH) tetap 2 tahun agar hasilnya maksimal. Sementara peserta cenderung lebih memilih 1 tahun mengingat kuliah.

Badan Pengurus Harian Periode 2014/2015

Berdasarkan hasil voting yang dilakukan di hari yang ke-2, melibatkan 56 pemilih. Berikut adalah nama-nama BPH periode 2014/2015:

Ketua : Agung Massudi Pakendek
Ketua bidang intelektualitas: Gerardo Kalalembang
Ketua bidang kreatifitas: Inazt Patulak
Sekretaris: Elkyanus Palullungan
Bendahara: Devina A Hidayat

Terima kasih kepada semua panitia pengarah, panitia inti, bidang-bidang yang terlibat dalam RUA 2014 yang diselenggarakan di Wisma Sejahtera 3 dan para peserta yang hadir. RUA tidak akan berjalan semestinya tanpa kalian semua.

Penulis: Patrianto Galugu









Selasa, 27 Mei 2014

Evelen Besthari Pongsibidang Presiden Mahasiswa UKDW

Biodata

Nama : Evelen Besthari Pongsibidang

Alamat Asal: Jalan Buntu Tagari, No. 34, Tallunglipu

Alamat di Yogyakarta: Jalan Iromejan, Gondokusuman

Jejaring Sosial: Facebook: Evelen Besthari, Twitter: @evelenbesthari

SMA: SMA Kristen Barana’ Rantepao-Toraja Utara

Hobi: Dengar Musik dan Nonton Film

“Do The Best Selalu Agar Hasilnya Maksimal”

Evelen Besthari Pongsibidang yang akrab dipanggil Elen adalah Presiden Mahasiswa UKDW tahun 2014. Elen menjadi tokoh utama Badan Eksklusif Mahasiswa Universitas (BEMU) untuk saat ini. BEMU merupakan lembaga tertinggi organisasi kemahasiswaan dan membawahi semua UKM di UKDW. Ketika ditemui Koran Kampus (2/4) Elen mengungkapkan motivasinya menjadi Presiden adalah agar bisa melayani, dengan menjadi Presiden maka bisa melayani kampus, mahasiswa, dan masyarakat melalui aksi sosial seperti penggalangan dana korban alam gunung Sinabung. Sebelum mencalonkan diri menjadi calon Presiden Mahasiswa tahun 2013, Elen sempat ragu, tapi dukungan dan nasehat orang terdekatnya membuatnya percaya diri mencalonkan diri. “Mengapa saya tidak mencoba mencalonkan diri?,” ujarnya.

Elen yang sempat menjadi wakil ketua osis dan ketua osis SMA Barana’ Rantepao mengungkapkan kegiatan BEMU sangat banyak dan sekali-kali ada rapat dadakan.  Terkadang ada diskomunikasi dengan teman-teman di BEMU, untungnya mereka terbuka dan segera mengatasi masalah bersama-sama. Sejak tahun 2012, Elen telah bekerja part time di pojok Bursa Efek Indonesia UKDW (BEI UKDW). Bekerja di pojok BEI sesuai dengan jurusan Akuntansi yang dia jalani sekarang, hal tersebut menambah banyak pengetahuannya tentang saham.

Awal menjadi Presiden, Elen sempat tidak mampu membagi waktu dengan baik dikarenakan masih harus membiasakan diri dengan kegiatan kemahasiswaan. “Membagi waktu antara BEMU dan kerja kelompok itu susah, teman-teman sekelompok terkadang komplain dengan tugas. Untungnya teman-teman dekat mengerti dengan posisi saya,” ungkapnya. Walaupun sibuk berorganisasi dia tetap memprioritaskan tugas. Kalau misalnya ada tugas kuliah yang harus dikerjakan, dia tidak ragu membatalkan rapat. Kedua orang tuanya memberi pesan supaya kuliah dengan benar. “Ya, let it flow aja sih, kalau terlalu banyak mikir bisa jadi stres” lanjutnya sambil tertawa.

Melalui BEMU ini Elen mendapat 3 pelajaran penting. Pertama, mengenai public speaking. Dia mengakui sewaktu SMA, dia termasuk orang yang sedikit gagap ketika berbicara, memberikan sambutan harus dipersiapkan terlebih dahulu, sekarang dia bisa berani spontan berbicara di depan banyak orang.  Awal masuk kuliah pun dia orang yang tidak banyak berbicara. Ke-2, Elen mampu mengambil keputusan jauh lebih baik, dibanding sebelum menjadi bagian dari BEMU. Ke-3, mendapat banyak keluarga baru. “Sekarang makin banyak teman baru dan bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki posisi tinggi di UKDW seperti Rektor,” ujar Elen yang mengagumi gaya kepemimpinan Jokowi karena merakyat dan sosialis.

Dalam kesehariannya, Elen sangat suka mendengarkan musik. Terutama lagu yang memiliki lirik penyemangat, memberikan inspirasi baginya. Ketika mengerjakan sesuatu dia selalu berusaha do the best. Prinsip tersebut juga dia praktekkan di BEMU dan tidak memikirkan pendapat orang lain. “Inilah BEMU dengan segala kelebihan dan kekurangannya,” ketika menjawab pertanyaan.

Elen berharap kinerja BEMU jauh lebih dari tahun-tahun sebelumnya. “Aku terharu dan bangga, rekan-rekan BEMU sekarang lebih kompak, mengerjakan sesuatu bareng-bareng” ungkapnya. Baginya membangkitkan BEMU itu sangat penting, BEMU FEST harus diadakan kembali. BEMU kedepannya akan lebih banyak melakukan aksi sosial untuk lingkungan hidup dan kemanusiaan di panti asuhan.

Foto kegiatan Evelen Besthari Pongsibidang











Penulis: Patrianto Galugu
Tulisan di atas sepenuhnya adalah hak cipta Koran Kampus UKDW, IKAPMAJAYA telah mendapat ijin dari Koran Kampus UKDW untuk memposting tulisan tersebut.


Selasa, 20 Mei 2014

8 Tipe Mahasiswa di Perkuliahan

Sebelum kuliah ada baiknya kenalan dulu sama mahasiswanya.
Jadi buat kalian yang baru terlepas dari beban ujian. Lagi asik-asiknya jalan-jalan dan sibuk merancang masa depan. Ada satu hal yang harus kalian tahu tentang dunia perkuliahan yang nggak bakal sama kayak jaman SMA. Simak 8 mahasiswa yang bakal ditemui nanti di jam-jam kuliah lo.
Rajin Bertanya Soal Absen
Di hari pertama kuliah, lo bakal bertemu orang-orang yang rajin bertanya soal absensi sama dosen. Mulai dari nanyain jatah maksimal absen sampe ngeributin hal-hal sepele kayak “sakit itu termasuk hadir atau absen ya Pak? Terus kalo sampe diinfus dan dirawat di rumah sakit gimana?” Pokoknya mereka yang masuk kategori ini bakal lebih pusing mikirin absensi daripada mengejar cita-cita di bangku kuliah.
Tukang Gema Omongan Dosen
Jangan heran kalo lagi asyik-asyik dengerin penjelasan dosen, tiba-tiba satu detik kemudian ada suara pengikutnya di belakang. Ya, orang-orang inilah pelakunya. Nggak tahu ya, maksudnya apa? Pengen dibilang aktif di kelas atau biar disangka paling ngerti sama materinya kali ya. Bener-bener ganggu banget deh, Apalagi kalo suaranya sumbang. Emang ada sinetron si Doel Sumbang Anak Sekolahan?
Penganut Paham Pamali Sama Bangku Depan
Kalo di sekolah, nggak pernah ada bangku kosong, kecuali di film horor. Tapi di kuliah lo bakal sering ketemu sama penganut paham pamali sama bangku depan. Selama kuliah orang-orang ini anti banget dan nggak pernah mau duduk di bangku paling depan itu. Namanya juga pamali, jadi nggak baik kalo dilakuin (kata mereka).
Sibuk Motoin Slide
Di kuliah, kita emang sering dibebasin sama dosen dalam mencatat. Maklum kita kan dianggap udah gede. Jadi bisa tanggung jawab sendiri sama masa depan. Nggak bisa dipaksa-paksa lagi harus nyatet terus-terusan. Makanya di kuliah nanti lo bakal ketemu sama orang-orang yang sibuk motoin slide modul dosen daripada nyatet.
Dateng di Tengah Pelajaran
Lo harus tahu di kampus itu nggak ada bel bunyi kayak di sekolah. Jadi pergantian jam perkuliahan juga cuma lo, dosen yang bersangkutan, dan Tuhan aja yang tahu. Makanya nanti lo juga bakal sering ngeliat mahasiswa yang datengnya selalu di tengah pelajaran.
Nggak Pernah Bawa Tas
Nggak kayak SMA yang satu mata pelajaran bisa ada 4 buku yang harus dibawa, buku cetak, buku catetan, buku latihan, sama buku PR. Lagi-lagi karena lo udah dianggap dewasa tadi makanya dosen nggak mengharuskan lo bawa buku. Jadi kalo gitu ngapain harus bawa tas? Nah orang-orang ini juga suka jadi ninja di kelas. Keluar kelas tiba-tiba lalu nggak balik selamanya.
Rajin Ngopy Modul via Flashdisk
Bukan pecinta nyatet, apalagi penggemar fotografi modul. Mereka adalah si rajin mengopy modul via Flashdisk. Bisa jadi juga termasuk yang nggak pernah bawa tas ke kelas. Cukup kalungin Flashdisk di leher, materi kuliah pun bisa didapet.
Langsung Nanyain Jadwal UTS&UAS
Mahasiswa tipe ini kayaknya keliatan siap banget ya menghadapi ujian. Padahal baru pertemuan pertama kuliah. Harusnya kan masih waktunya kenal-kenalan. Eh ini udah nanyain jadwal ujian. Mulai dari jumlah soal sampe tipe ujiannya yang bakal close book atau open book. Padahal dosennya juga belom kepikiran. Visioner banget deh!
Sumber: http://www.provoke-online.com/index.php/special/1917-8-tipe-mahasiswa-di-perkuliahan

Senin, 12 Mei 2014

RANNUNNA KAMATEANG Kebahagiaan dalam Kematian pada Gerak Tari


Gerak tari 'Rannunna Kamateang'. (Foto : Pramesthi Ratnaningtyas)

KEBAHAGIAAN dalam kematian atau dalam bahasa Toraja, 'Rannunna Kamateang' dimunculkan dalam tipe tari dramatik dan dramatari oleh Muzakkir Hakim SPd, di Auditorium Teater Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Yogyakarta, Rabu (27/11/2013). Pentas tersebut merupakan ujian penciptaan karya 3, semester 3 angkatan 2012 Jurusan Penciptaan Seni Tari, FSP, Pascasarjana ISI Yogya.

Karya tari bersumber dari upacara Rambu Solo' Dirapai' bagi suku Tana Toraja. Dalam penggarapan koreografi ini, tahapan proses Umbating (meratapi orang mati) dan Ma'badong (ungkapan rasa syukur dari lahir hingga meninggalnya yang mati) menjadi titik perhatian untuk dijadikan adegan dalam penciptaan karya tari 'Rannunna Kamateang'.

Dua hal ini diwujudkan dan divisualisasikan menjadi adegan awal dan adegan akhir. Jika secara berurutan akan terdiri dari Umbating, Ma'randing (pengantar dari arak-arakan), Ma'pasonglo (arak-arakan semua keluarga, terutama perempuan di bawah kain merah yang berjalan di sekitar desa untuk mengantarkan jenazah dari rumah ke pemakaman Rambu Solo'), Ma'tapia (penghormatan bagi sang mayat dari para cucu) dan Ma'badong.

Tari tersebut mengeksplorasi gerak tradisi Toraja dalam konteks kontemporer yang bercirikan pengolahan tubuh. Selain itu, juga mengeksplorasi gerak realis sebagai penguat nuansa. Pengembangan ragam gerak Pa'langkang-langkang dalam tari Pa'gellu etnik Toraja menjadi bentuk baru dari gerak, persoalan, ruang, maupun ritmenya.

Diungkapkan Muzakir, upacara Rambu Solo' merupakan upacara kematian bagi etnis Toraja. Mereka menunaikan kewajiban dan tanggungjawab dengan memberikan pengorbanan materi yang tidak sedikit. Hal ini dilakukan karena mereka sangat menghormati budaya, tradisi, adat istiadat, dan agama.

"Hampir seluruh aktivitas kehidupan masyarakat Toraja yang berkaitan dengan mata pencaharian, pada akhirnya bermuara pada pelaksanaan upacara pemakaman Rambu Solo' secara terbuka sesuai kedudukan si mati dalam masyarakat, dan berdasarkan kemampuan seseorang (keluarga si mati)," tuturnya.

Umbating, lanjut Muzakir, merupakan adegan awal yang dimaksudkan untuk membawa atau mengajak penonton pada suasana upacara kematian itu sendiri. Upacara yang secara langsung mencerminkan kesedihan dari keluarga si mati. Hal tersebut bersumber dari upacara kematian yang selalu dikaitkan dengan kesedihan.

Sementara, Ma'badong selalu dihadirkan sebagai penutup upacara Dirapai' yang berisi nyanyian dan tarian sebagai ekspresi mengenang perjalanan hidup si mati. Divisualisasikan pada adegan akhir karya. Hal ini diasumsikan juga akan memberi penguatan atau penegasan akhir dalam rangkaian karya 'Rannunna Kamateang'.

"'Rannunna Kamateang' dihadirkan karena dalam upacara Rambu Solo’ tidak hanya kesedihan yang hadir. Namun, banyak kebahagian yang terjadi dalam melaksanakan upacara tersebut," ungkap Muzakir. (Mez)

Sumber: www.krjogja.com
http://krjogja.com/read/195354/kebahagiaan-dalam-kematian-pada-gerak-tari.kr