Rabu, 28 Mei 2014

Poin Rapat Umum Anggota IKAPMAJAYA

Pemimpin Rapat/Facebook.com
24-25 Mei 2014 diadakan Rapat Umum Anggota (RUA) Ikatan Pelajar Mahasiswa Yogyakarta (IKAPMAJAYA) di wisma Sejahtera 3, dihadiri oleh 48 peserta dan 28 panitia RUA.

Ketua panitia Gerardo E.J. Kala'lembang mengungkapkan rasa terima kasih kepada semua peserta dan panitia yang turut hadir dalam RUA ini. Michael Daud Tonda ketua IKAPMAJAYA periode 2012-2014 dalam sambutannya memberikan pujian kepada panitia RUA dan memberikan sedikit gambaran tentang tentang kinerja kepengurusannya selama 2 tahun.

"Manfaatkan kegiatan ini untuk pembelajaran ke depan. Ini adalah proses belajar untuk regenerasi berikutnya, semoga mendapat pembelajaran dari RUA ini," ungkap Robert Allo Barani sebagai ketua pengarah. 

Agar rapat dapat berjalan dengan baik maka dipilih beberapa orang untuk memimpin rapat. Nimrod berperan sebagai ketua, ketua wakil I Frans, wakil ketua II Agung yang kemudian terpilih sebagai ketua IKAPMAJAYA, Citra wakil ketua III, dan sekretaris Abrini Iwangga.

Nasehat Dari Tamu Undangan

Ketua KTY Cornelis Guling memberikan nasehat kepada semua peserta dan panitia yang hadir agar menghargai waktu dengan baik. Jangan sampai waktu yang mengatur, seharusnya kita yang bisa mengatur waktu. Cornelis Guling melanjutkan "Lebih baik menjadi cerdas daripada pintar" dalam sambutannya. 

Kombespol Drs. Amran Ampulembang dalam seminar singkat memberikan nasehat kepada semua peserta dan panitia yang hadir dalam RUA agar menggunakan waktu dengan sebaik mungkin agar waktu bisa digunakan untuk hal yang positif. Lanjutnya "Mahasiswa harus memiliki target, memiliki cita-cita dari sekarang itu sangat penting."

Student Today, Leader Tommorow

"Student Today, Leader Tomorrow" adalah tema RUA tahun 2014. Student Today berkaitan dengan RUA diharapkan setiap yang terlibat didalamnya memaknai proses belajar sebagai hal yang tidak pernah berhenti, baik secara organisasi dan struktural maupun dalam kehidupan bersama. 

Leader tomorrow berarti seorang pemimpin yang memiliki jiwa kepemimpinan. Pemimpin tidak hanya bergerak pada ranah organisasi saja namun terlebih bagaimana setiap anggota IKAPMAJAYA yang didukung dengan proses belajar dapat memimpin diri sendiri sebagai pribadi yang unggul dan dapat bersaing sebagai pemimpin yang terbekali dalam bidang masing-masing. 

RUA terutama diselenggarakan untuk reorganisasi dan reformasi struktur keorganisasian; meminta pertanggungjawaban dari presidium (Mandataris RUA); melengkapi dan menetapkan AD/ADRT dan; mengesahkan dan membubarkan organisasi. 

Rasa Terima Kasih Atas Hasil Kepengurusan Presidium 2012-2014

BPH periode sebelumnya mengakui kelemahan mereka selama memimpin IKAPMAJAYA dan berharap kepengurusan IKAPMAJAYA berikutnya lebih baik.

Dikutip dari group facebook IKAPMAJAYA (29/5), Michael Daud Tonda menuliskan "Begitu banyak pengalaman yang mengajarkan kami tentang kesabaran dan kebesaran hati untuk tetap eksis menjalankan gerak IKAPMAJAYA selama 2 tahun ini 'Mengembangkan ikatan persaudaraan, pengembangan dan penyaluran intelektualitas dan kreatifitas yang bersifat independen.'

"Terimakasih kepada alumni yang telah mendukung dalam moral dan materi untuk wujud kepedulian kepada IKAPMAJAYA. Terimakasih kepada dewan pertimbangan dan penasehat dan terimasih yang sebesar-berasnya kepada seluruh anggota IKAPMAJAYA yang senantiasa aktif mengikuti kegiatan, menjaga keakraban, tergabung dlm kepanitiaan, memberi sumbangsi pemikiran dan kreatifitas bagi organisasi kita tercinta IKAPMAJAYA kalianlah motivasi semangat kami membangun IKAPMAJAYA" tulis Michael.

Tak lupa mengucapkan terima kasih kepada panitia pelaksana RUA 2014 dan panitia pengarah (steering committee) yang luar biasa mempersiapkan materi dan mengajarkan IKAPMAJAYA dinamika persidangan yang baik, semoga bisa dikembangkan kedepannya tentang cara melakukan persidangan yang baik. Steering Commitee terdiri dari Robert Allo Barani, Stanley Risaranti, Thri Sandy Daud Tonda, Lidya K. Tandirerung, Atong Saria, Richard Reynold Mapadin, Erick Arung Patandianan, dan Christo Valentino.

Ketika menyampaikan LPJ, tidak lupa diputarkan video aktifitas IKAPMAJAYA periode 2012-2014, dapat disaksikan melalui video youtube berikut ini,






Perubahan Masa Jabatan BPH
Berdasarkan hasil voting yang dilakukan, masa jabatan BPH IKAPMAJAYA menjadi setahun, tidak seperti jabatan sebelumnya yang menghabiskan waktu selama 2 tahun.

Mereka yang pernah terlibat dalam kepengurusan IKAPMAJAYA beberapa tahun sebelumnya (bisa disebut senior karena pengalaman mereka) memberikan masukan agar masa jabatan Badan Pengurus Harian (BPH) tetap 2 tahun agar hasilnya maksimal. Sementara peserta cenderung lebih memilih 1 tahun mengingat kuliah.

Badan Pengurus Harian Periode 2014/2015

Berdasarkan hasil voting yang dilakukan di hari yang ke-2, melibatkan 56 pemilih. Berikut adalah nama-nama BPH periode 2014/2015:

Ketua : Agung Massudi Pakendek
Ketua bidang intelektualitas: Gerardo Kalalembang
Ketua bidang kreatifitas: Inazt Patulak
Sekretaris: Elkyanus Palullungan
Bendahara: Devina A Hidayat

Terima kasih kepada semua panitia pengarah yang telah disebutkan di atas (lihat Rasa Terima Kasih Kepengurusan Presidium 2012-2014) panitia inti, bidang-bidang yang terlibat dalam RUA 2014 yang diselenggarakan di Wisma Sejahtera 3 dan para peserta yang hadir. RUA tidak akan berjalan semestinya tanpa kalian semua.

Penulis: Patrianto Galugu









Selasa, 27 Mei 2014

Evelen Besthari Pongsibidang Presiden Mahasiswa UKDW

Biodata

Nama : Evelen Besthari Pongsibidang

Alamat Asal: Jalan Buntu Tagari, No. 34, Tallunglipu

Alamat di Yogyakarta: Jalan Iromejan, Gondokusuman

Jejaring Sosial: Facebook: Evelen Besthari, Twitter: @evelenbesthari

SMA: SMA Kristen Barana’ Rantepao-Toraja Utara

Hobi: Dengar Musik dan Nonton Film

“Do The Best Selalu Agar Hasilnya Maksimal”

Evelen Besthari Pongsibidang yang akrab dipanggil Elen adalah Presiden Mahasiswa UKDW tahun 2014. Elen menjadi tokoh utama Badan Eksklusif Mahasiswa Universitas (BEMU) untuk saat ini. BEMU merupakan lembaga tertinggi organisasi kemahasiswaan dan membawahi semua UKM di UKDW. Ketika ditemui Koran Kampus (2/4) Elen mengungkapkan motivasinya menjadi Presiden adalah agar bisa melayani, dengan menjadi Presiden maka bisa melayani kampus, mahasiswa, dan masyarakat melalui aksi sosial seperti penggalangan dana korban alam gunung Sinabung. Sebelum mencalonkan diri menjadi calon Presiden Mahasiswa tahun 2013, Elen sempat ragu, tapi dukungan dan nasehat orang terdekatnya membuatnya percaya diri mencalonkan diri. “Mengapa saya tidak mencoba mencalonkan diri?,” ujarnya.

Elen yang sempat menjadi wakil ketua osis dan ketua osis SMA Barana’ Rantepao mengungkapkan kegiatan BEMU sangat banyak dan sekali-kali ada rapat dadakan.  Terkadang ada diskomunikasi dengan teman-teman di BEMU, untungnya mereka terbuka dan segera mengatasi masalah bersama-sama. Sejak tahun 2012, Elen telah bekerja part time di pojok Bursa Efek Indonesia UKDW (BEI UKDW). Bekerja di pojok BEI sesuai dengan jurusan Akuntansi yang dia jalani sekarang, hal tersebut menambah banyak pengetahuannya tentang saham.

Awal menjadi Presiden, Elen sempat tidak mampu membagi waktu dengan baik dikarenakan masih harus membiasakan diri dengan kegiatan kemahasiswaan. “Membagi waktu antara BEMU dan kerja kelompok itu susah, teman-teman sekelompok terkadang komplain dengan tugas. Untungnya teman-teman dekat mengerti dengan posisi saya,” ungkapnya. Walaupun sibuk berorganisasi dia tetap memprioritaskan tugas. Kalau misalnya ada tugas kuliah yang harus dikerjakan, dia tidak ragu membatalkan rapat. Kedua orang tuanya memberi pesan supaya kuliah dengan benar. “Ya, let it flow aja sih, kalau terlalu banyak mikir bisa jadi stres” lanjutnya sambil tertawa.

Melalui BEMU ini Elen mendapat 3 pelajaran penting. Pertama, mengenai public speaking. Dia mengakui sewaktu SMA, dia termasuk orang yang sedikit gagap ketika berbicara, memberikan sambutan harus dipersiapkan terlebih dahulu, sekarang dia bisa berani spontan berbicara di depan banyak orang.  Awal masuk kuliah pun dia orang yang tidak banyak berbicara. Ke-2, Elen mampu mengambil keputusan jauh lebih baik, dibanding sebelum menjadi bagian dari BEMU. Ke-3, mendapat banyak keluarga baru. “Sekarang makin banyak teman baru dan bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki posisi tinggi di UKDW seperti Rektor,” ujar Elen yang mengagumi gaya kepemimpinan Jokowi karena merakyat dan sosialis.

Dalam kesehariannya, Elen sangat suka mendengarkan musik. Terutama lagu yang memiliki lirik penyemangat, memberikan inspirasi baginya. Ketika mengerjakan sesuatu dia selalu berusaha do the best. Prinsip tersebut juga dia praktekkan di BEMU dan tidak memikirkan pendapat orang lain. “Inilah BEMU dengan segala kelebihan dan kekurangannya,” ketika menjawab pertanyaan.

Elen berharap kinerja BEMU jauh lebih dari tahun-tahun sebelumnya. “Aku terharu dan bangga, rekan-rekan BEMU sekarang lebih kompak, mengerjakan sesuatu bareng-bareng” ungkapnya. Baginya membangkitkan BEMU itu sangat penting, BEMU FEST harus diadakan kembali. BEMU kedepannya akan lebih banyak melakukan aksi sosial untuk lingkungan hidup dan kemanusiaan di panti asuhan.

Foto kegiatan Evelen Besthari Pongsibidang











Penulis: Patrianto Galugu
Tulisan di atas sepenuhnya adalah hak cipta Koran Kampus UKDW, IKAPMAJAYA telah mendapat ijin dari Koran Kampus UKDW untuk memposting tulisan tersebut.


Selasa, 20 Mei 2014

8 Tipe Mahasiswa di Perkuliahan

Sebelum kuliah ada baiknya kenalan dulu sama mahasiswanya.
Jadi buat kalian yang baru terlepas dari beban ujian. Lagi asik-asiknya jalan-jalan dan sibuk merancang masa depan. Ada satu hal yang harus kalian tahu tentang dunia perkuliahan yang nggak bakal sama kayak jaman SMA. Simak 8 mahasiswa yang bakal ditemui nanti di jam-jam kuliah lo.
Rajin Bertanya Soal Absen
Di hari pertama kuliah, lo bakal bertemu orang-orang yang rajin bertanya soal absensi sama dosen. Mulai dari nanyain jatah maksimal absen sampe ngeributin hal-hal sepele kayak “sakit itu termasuk hadir atau absen ya Pak? Terus kalo sampe diinfus dan dirawat di rumah sakit gimana?” Pokoknya mereka yang masuk kategori ini bakal lebih pusing mikirin absensi daripada mengejar cita-cita di bangku kuliah.
Tukang Gema Omongan Dosen
Jangan heran kalo lagi asyik-asyik dengerin penjelasan dosen, tiba-tiba satu detik kemudian ada suara pengikutnya di belakang. Ya, orang-orang inilah pelakunya. Nggak tahu ya, maksudnya apa? Pengen dibilang aktif di kelas atau biar disangka paling ngerti sama materinya kali ya. Bener-bener ganggu banget deh, Apalagi kalo suaranya sumbang. Emang ada sinetron si Doel Sumbang Anak Sekolahan?
Penganut Paham Pamali Sama Bangku Depan
Kalo di sekolah, nggak pernah ada bangku kosong, kecuali di film horor. Tapi di kuliah lo bakal sering ketemu sama penganut paham pamali sama bangku depan. Selama kuliah orang-orang ini anti banget dan nggak pernah mau duduk di bangku paling depan itu. Namanya juga pamali, jadi nggak baik kalo dilakuin (kata mereka).
Sibuk Motoin Slide
Di kuliah, kita emang sering dibebasin sama dosen dalam mencatat. Maklum kita kan dianggap udah gede. Jadi bisa tanggung jawab sendiri sama masa depan. Nggak bisa dipaksa-paksa lagi harus nyatet terus-terusan. Makanya di kuliah nanti lo bakal ketemu sama orang-orang yang sibuk motoin slide modul dosen daripada nyatet.
Dateng di Tengah Pelajaran
Lo harus tahu di kampus itu nggak ada bel bunyi kayak di sekolah. Jadi pergantian jam perkuliahan juga cuma lo, dosen yang bersangkutan, dan Tuhan aja yang tahu. Makanya nanti lo juga bakal sering ngeliat mahasiswa yang datengnya selalu di tengah pelajaran.
Nggak Pernah Bawa Tas
Nggak kayak SMA yang satu mata pelajaran bisa ada 4 buku yang harus dibawa, buku cetak, buku catetan, buku latihan, sama buku PR. Lagi-lagi karena lo udah dianggap dewasa tadi makanya dosen nggak mengharuskan lo bawa buku. Jadi kalo gitu ngapain harus bawa tas? Nah orang-orang ini juga suka jadi ninja di kelas. Keluar kelas tiba-tiba lalu nggak balik selamanya.
Rajin Ngopy Modul via Flashdisk
Bukan pecinta nyatet, apalagi penggemar fotografi modul. Mereka adalah si rajin mengopy modul via Flashdisk. Bisa jadi juga termasuk yang nggak pernah bawa tas ke kelas. Cukup kalungin Flashdisk di leher, materi kuliah pun bisa didapet.
Langsung Nanyain Jadwal UTS&UAS
Mahasiswa tipe ini kayaknya keliatan siap banget ya menghadapi ujian. Padahal baru pertemuan pertama kuliah. Harusnya kan masih waktunya kenal-kenalan. Eh ini udah nanyain jadwal ujian. Mulai dari jumlah soal sampe tipe ujiannya yang bakal close book atau open book. Padahal dosennya juga belom kepikiran. Visioner banget deh!
Sumber: http://www.provoke-online.com/index.php/special/1917-8-tipe-mahasiswa-di-perkuliahan

Senin, 12 Mei 2014

RANNUNNA KAMATEANG Kebahagiaan dalam Kematian pada Gerak Tari


Gerak tari 'Rannunna Kamateang'. (Foto : Pramesthi Ratnaningtyas)

KEBAHAGIAAN dalam kematian atau dalam bahasa Toraja, 'Rannunna Kamateang' dimunculkan dalam tipe tari dramatik dan dramatari oleh Muzakkir Hakim SPd, di Auditorium Teater Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Yogyakarta, Rabu (27/11/2013). Pentas tersebut merupakan ujian penciptaan karya 3, semester 3 angkatan 2012 Jurusan Penciptaan Seni Tari, FSP, Pascasarjana ISI Yogya.

Karya tari bersumber dari upacara Rambu Solo' Dirapai' bagi suku Tana Toraja. Dalam penggarapan koreografi ini, tahapan proses Umbating (meratapi orang mati) dan Ma'badong (ungkapan rasa syukur dari lahir hingga meninggalnya yang mati) menjadi titik perhatian untuk dijadikan adegan dalam penciptaan karya tari 'Rannunna Kamateang'.

Dua hal ini diwujudkan dan divisualisasikan menjadi adegan awal dan adegan akhir. Jika secara berurutan akan terdiri dari Umbating, Ma'randing (pengantar dari arak-arakan), Ma'pasonglo (arak-arakan semua keluarga, terutama perempuan di bawah kain merah yang berjalan di sekitar desa untuk mengantarkan jenazah dari rumah ke pemakaman Rambu Solo'), Ma'tapia (penghormatan bagi sang mayat dari para cucu) dan Ma'badong.

Tari tersebut mengeksplorasi gerak tradisi Toraja dalam konteks kontemporer yang bercirikan pengolahan tubuh. Selain itu, juga mengeksplorasi gerak realis sebagai penguat nuansa. Pengembangan ragam gerak Pa'langkang-langkang dalam tari Pa'gellu etnik Toraja menjadi bentuk baru dari gerak, persoalan, ruang, maupun ritmenya.

Diungkapkan Muzakir, upacara Rambu Solo' merupakan upacara kematian bagi etnis Toraja. Mereka menunaikan kewajiban dan tanggungjawab dengan memberikan pengorbanan materi yang tidak sedikit. Hal ini dilakukan karena mereka sangat menghormati budaya, tradisi, adat istiadat, dan agama.

"Hampir seluruh aktivitas kehidupan masyarakat Toraja yang berkaitan dengan mata pencaharian, pada akhirnya bermuara pada pelaksanaan upacara pemakaman Rambu Solo' secara terbuka sesuai kedudukan si mati dalam masyarakat, dan berdasarkan kemampuan seseorang (keluarga si mati)," tuturnya.

Umbating, lanjut Muzakir, merupakan adegan awal yang dimaksudkan untuk membawa atau mengajak penonton pada suasana upacara kematian itu sendiri. Upacara yang secara langsung mencerminkan kesedihan dari keluarga si mati. Hal tersebut bersumber dari upacara kematian yang selalu dikaitkan dengan kesedihan.

Sementara, Ma'badong selalu dihadirkan sebagai penutup upacara Dirapai' yang berisi nyanyian dan tarian sebagai ekspresi mengenang perjalanan hidup si mati. Divisualisasikan pada adegan akhir karya. Hal ini diasumsikan juga akan memberi penguatan atau penegasan akhir dalam rangkaian karya 'Rannunna Kamateang'.

"'Rannunna Kamateang' dihadirkan karena dalam upacara Rambu Solo’ tidak hanya kesedihan yang hadir. Namun, banyak kebahagian yang terjadi dalam melaksanakan upacara tersebut," ungkap Muzakir. (Mez)

Sumber: www.krjogja.com
http://krjogja.com/read/195354/kebahagiaan-dalam-kematian-pada-gerak-tari.kr

Budaya Toraja Di "1 Indonesia Festival"

Acara welcome party yang diadakan oleh Youth Impact Yogyakarta (September 2013 @ImpactCenterYogyakarta) dengan tema "1 Indonesia Festival" terlihat begitu ramai oleh pengunjung yang setelah melakukan ibadah di ruang ibadah impact center. Selain itu tata panggung yang baik, band Just 4 U yang memukau, dan stand yang beruansa serba budaya Indonesia menarik banyak pengunjung. Stands yang ada mewakili semua budaya dari seluruh Indonesia, mulai dari budaya Toraja, Batak, Kalimantan, dan Jawa. Stand Toraja dipenuhi oleh banyak pengunjung, disuguhi dengan kue khas Toraja, tenunan, kerajinan tangan, dan kopi asli Toraja. Author akan lebih berfokus kepada stand Toraja.
Kue Khas Toraja
Kue yang disajikan yaitu:

Kue Tori', kurang Toraja jika tidak ada kue ini. kue khas Toraja yg terbuat dari tepung beras dan gula merah, bentuknya tidak terlalu menarik tapi rasanya luar biasa, enak di lidah dan membuat ketagihan. Kue Tori' dihidangkan dalam berbagai acara baik formal maupun nonformal, terutama pesta kematian, pernikahan, dan syukuran.
Jipang, Jipang dibuat dari beras ketan dan gula merah. Rasanya manis dan kriuk-kriuk.
Baje', baje' yang disajikan adalah baje' isi kacang, manis dan enak.
Kopi Toraja
Kopi Arabika disajikan dalam termos dan disediakan cangkir plastik supaya pengunjung dengan mudahnya memencet termos yang terisi kopi Toraja. Banyak yang meminta lagi untuk meminum kopi Arabika ini, tapi cepat habis karena laku. Ada juga kopi yang masih dalam kemasan.

Pernak-Pernik Penghias
Stand lebih banyak dilingkari oleh kain warna merah dengan ukiran Pa' Ulu Tedong (Kerbau), Pa' Barre Allo (Matahari), dan Pa' Kadang Pao (Pare). Ulu tedong (Kepala kerbau) dipasang di atas lukisan.
Lukisan yang indah menggambarkan kehidupan masyarakat Toraja dalam kesehariannya, mereka mengembala kerbau dan babi, mengangkat kayu, serta meniris padi. Di lukisan tersebut terlihat rumah khas Toraja. Di atas lukisan terdapat miniatur kepala kerbau yang melambangkan kemakmuran bagi orang Toraja. Ada pula perisai pelindung perang serta tombak. Banyak pengunjung yang kemudian berfoto sambil menggunakan alat tersebut.
Kerajinan Tangan
Kerajinan tangan yang ditampilkan adalah jam dinding, kerbau belang mini, dan rumah tongkonan mini. Kerajinan ini juga menjadi pusat perhatian pengunjung. Mereka ingin berfoto dengan kerbau mini yang terbuat dari kayu yang dipahat.
Baju Toraja
Penjaga stand adalah Patrianto Galugu, ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Toraja Yogyakarta (Ikapmajaya) Michael Daud Tonda, Richard Reynol Mapandin, Christo Valentino (#Fbname), Citra Kasih Ro'son, Winda Anugerah, Angelina Pangala, Suhartati Mentari, Devri Pasande, Thri Sandy Daud Tonda, dan Evi. Beberapa di antara mereka menggunakan baju daerah Toraja. Laki-laki mengunakan baju Tallu Buku dari kain tenun Toraja dan wanita menggunakan kain tenun, Ambero, dan gelang Toraja.
Pengunjung
Stand dikunjungi oleh mahasiswa dari seluruh universitas di Yogyakarta dari berbagai suku di Indonesia serta para pelajar Yogyakarta. Kopi Toraja menjadi primadona pengunjung stand sebab untuk mendapat secangkir kopi Toraja di Cafe anda harus mengeluarkan dana tak kurang dari Rp 6500 /cup atau bahkan lebih dari harga tersebut.

Seorang mahasiswa Yogyakarta yang selama ini tinggal di Papua tapi keturunan asli Toraja memaparkan "Aku orang Toraja, tapi tidak tahu berbahasa Toraja." Stand Toraja begitu ramai oleh pengunjung dengan segudang pertanyaan "Ini kue apa namanya?, bentuknya itu loh." Yang lain meminta secangkir kopi, tapi kopi Toraja cepat ludes.
Narsis
Beberapa pengujung meminta untuk mengambil foto di stand Toraja, pusat perhatian untuk mengambil foto adalah lukisan Toraja dengan tombak dan perisai untuk senjatanya. Mahasiswa kalimantan, warior prayer, pengunjung, serta penjaga stand ikut andil narsis dengan berfoto ria.

Penulis: Patrianto Galugu
Sumber: www.menginspirasi.com

Minggu, 11 Mei 2014

Pa’ Gellu’ IKAPMAJAYA Tampil Di HUT Kab. Sleman Yogyakarta

Setelah mengisi pentas tari nusantara di kediaman Gusti Kanjeng Ratu Pembayun (Putri Sultan) pada 4 mei 2013 lalu, kembali lagi team pa’ gellu’ IKAPMAJAYA (Ikatan Pelajar Mahasiswa Toraja Yogyakarta) diberi kesempatan untuk tampil di acara puncak Hari Ulang Tahun Kabupaten Sleman, yakni pentas tari Nusantara yang dirangkaikan dengan kontes angkringan terbaik se-Sleman Yogyakarta, Minggu (11/5)2013. “Apresiasi yang baik dari para hadirin saat pa’ gellu’ ditampilkan membuat kami sadar betapa dihargainya sendra tari Toraja di Yogyakarta ini,” tulis Michael Tonda dalam pesan email kepada TCN.
Setelah berakhir, terlihat jelas hadirin, bupati dan beberapa pejabat kabupaten Sleman memberi sambutan tepuk tangan.

Personel Pa’Gellu IKAPMAJAYA adalah mahasiswa/i Toraja dari berbagai perguruan tinggi di kota Jogjakarta. Foto: Yusel
Team pa’ gellu’ IKAPMAJAYA pada malam itu diisi oleh penari Zyta (UNY), Tari (SanataDarma), Ayi (Amikom), Citra (UPN) dan Sryayu (ATMAJAYA); pa’randing Cul (UPN), Oky (ATMAJAYA), Inas (ATMAJAYA), Mchael (UKDW); pa’ gandang Eky (Alumni IKAPMAJAYA), Zet (UKDW), Dennis (ATMAJAYA), Penyanyi:Winda (SanataDarma).

Penampilan Pa’Gellu IKAPMAJAYA memukau hadirin, termasuk Bupati Sleman. Foto: Novianto Penampilan Pa’Gellu IKAPMAJAYA memukau hadirin, termasuk Bupati Sleman.
Butuh Sarana

Penampilan di Paskah Oikumene & Pentas tari nusantara di kediaman Gusti Kanjeng Ratu Pembayun 4 mei 2013. Foto: Hery
Team pa’ gellu’ IKAPMAJAYA terbentuk seiring terbentuknya IKAPMAJAYA pada 17 Nopember 1991 meski dalam proses regenerasinya sempat terhambat karena tidak adanya proses recruitment yang bagus. Alasan lain yang kadang menjadi hambatan untuk tampil adalah tidak lengkapnya peralatan tari seperti bayu seppa tallu buku sehingga kita masih harus menyewa atau meminjam ke luar daerah. Saat ini IKAPMAJAYA terus berusaha untuk lebih sering memperkenalkan Toraja dengan mengikuti pentas tari di Yogyakarta dan memperbaiki proses regenerasi dengan mengadakan pelatihan tari secara berkala bagi mahasiswa tahun angkatan baru.
Penulis: Michael Daud Tonda
Sumber: Toraja Ciber News (TCN)

Jumat, 09 Mei 2014

Rumah IKAPMAJAYA

Kamis, 08 Mei 2014

Sejarah Ikatan Pelajar Mahasiswa Toraja Yogyakarta (IKAPMAJAYA)

IKAPMAJAYA berdiri pada 17 November 1991. IKAPMAJAYA adalah organisasi berlatarbelakang kesukuan yakni Toraja. Berdasarkan namanya, Ikatan Pelajar Mahasiswa Toraja Yogyakarta dibentuk dengan tujuan yang sangat jelas yaitu untuk mempersatukan aspirasi mahasiswa Toraja yang bersekolah dan kuliah di Yogyakarta. Awal mula terfikirkannya untuk dibentuk IKAPMAJAYA, dikarenakan jumlah mahasiswa yang datang ke Yogjakarta sudah cukup banyak. Kemudian kesulitan terjadi ketika mahasiswa hendak berkumpul dan berencana untuk melakukan kegiatan berdasarkan aspirasi namun kerukunan keluarga toraja yang saat itu bernama Keluarga Toraja Yogyakarta tidak mampu menampung secara keseluruhan. Muncullah harapan dari para mahasiswa Toraja untuk kemudian membentuk IKAPMAJAYA yang diyakini nantinya dapat membawa seluru pelajar dan mahasiswa Toraja di Jogja untuk menuangkan aspirasi dan merealisasikannya secara bersama-sama atas nama IKAPMAJAYA. Tujuan IKAPMAJAYA jelas, selain untuk menggerakkan mahasiswa Toraja untuk lebih berfikir dan berkarya dalam akademis, budaya bahkan spiritual juga diyakini dapat memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk lebih memperdalam kemampuan berorganisasi.

We are family