Senin, 12 Mei 2014

Budaya Toraja Di "1 Indonesia Festival"

Acara welcome party yang diadakan oleh Youth Impact Yogyakarta (September 2013 @ImpactCenterYogyakarta) dengan tema "1 Indonesia Festival" terlihat begitu ramai oleh pengunjung yang setelah melakukan ibadah di ruang ibadah impact center. Selain itu tata panggung yang baik, band Just 4 U yang memukau, dan stand yang beruansa serba budaya Indonesia menarik banyak pengunjung. Stands yang ada mewakili semua budaya dari seluruh Indonesia, mulai dari budaya Toraja, Batak, Kalimantan, dan Jawa. Stand Toraja dipenuhi oleh banyak pengunjung, disuguhi dengan kue khas Toraja, tenunan, kerajinan tangan, dan kopi asli Toraja. Author akan lebih berfokus kepada stand Toraja.
Kue Khas Toraja
Kue yang disajikan yaitu:

Kue Tori', kurang Toraja jika tidak ada kue ini. kue khas Toraja yg terbuat dari tepung beras dan gula merah, bentuknya tidak terlalu menarik tapi rasanya luar biasa, enak di lidah dan membuat ketagihan. Kue Tori' dihidangkan dalam berbagai acara baik formal maupun nonformal, terutama pesta kematian, pernikahan, dan syukuran.
Jipang, Jipang dibuat dari beras ketan dan gula merah. Rasanya manis dan kriuk-kriuk.
Baje', baje' yang disajikan adalah baje' isi kacang, manis dan enak.
Kopi Toraja
Kopi Arabika disajikan dalam termos dan disediakan cangkir plastik supaya pengunjung dengan mudahnya memencet termos yang terisi kopi Toraja. Banyak yang meminta lagi untuk meminum kopi Arabika ini, tapi cepat habis karena laku. Ada juga kopi yang masih dalam kemasan.

Pernak-Pernik Penghias
Stand lebih banyak dilingkari oleh kain warna merah dengan ukiran Pa' Ulu Tedong (Kerbau), Pa' Barre Allo (Matahari), dan Pa' Kadang Pao (Pare). Ulu tedong (Kepala kerbau) dipasang di atas lukisan.
Lukisan yang indah menggambarkan kehidupan masyarakat Toraja dalam kesehariannya, mereka mengembala kerbau dan babi, mengangkat kayu, serta meniris padi. Di lukisan tersebut terlihat rumah khas Toraja. Di atas lukisan terdapat miniatur kepala kerbau yang melambangkan kemakmuran bagi orang Toraja. Ada pula perisai pelindung perang serta tombak. Banyak pengunjung yang kemudian berfoto sambil menggunakan alat tersebut.
Kerajinan Tangan
Kerajinan tangan yang ditampilkan adalah jam dinding, kerbau belang mini, dan rumah tongkonan mini. Kerajinan ini juga menjadi pusat perhatian pengunjung. Mereka ingin berfoto dengan kerbau mini yang terbuat dari kayu yang dipahat.
Baju Toraja
Penjaga stand adalah Patrianto Galugu, ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Toraja Yogyakarta (Ikapmajaya) Michael Daud Tonda, Richard Reynol Mapandin, Christo Valentino (#Fbname), Citra Kasih Ro'son, Winda Anugerah, Angelina Pangala, Suhartati Mentari, Devri Pasande, Thri Sandy Daud Tonda, dan Evi. Beberapa di antara mereka menggunakan baju daerah Toraja. Laki-laki mengunakan baju Tallu Buku dari kain tenun Toraja dan wanita menggunakan kain tenun, Ambero, dan gelang Toraja.
Pengunjung
Stand dikunjungi oleh mahasiswa dari seluruh universitas di Yogyakarta dari berbagai suku di Indonesia serta para pelajar Yogyakarta. Kopi Toraja menjadi primadona pengunjung stand sebab untuk mendapat secangkir kopi Toraja di Cafe anda harus mengeluarkan dana tak kurang dari Rp 6500 /cup atau bahkan lebih dari harga tersebut.

Seorang mahasiswa Yogyakarta yang selama ini tinggal di Papua tapi keturunan asli Toraja memaparkan "Aku orang Toraja, tapi tidak tahu berbahasa Toraja." Stand Toraja begitu ramai oleh pengunjung dengan segudang pertanyaan "Ini kue apa namanya?, bentuknya itu loh." Yang lain meminta secangkir kopi, tapi kopi Toraja cepat ludes.
Narsis
Beberapa pengujung meminta untuk mengambil foto di stand Toraja, pusat perhatian untuk mengambil foto adalah lukisan Toraja dengan tombak dan perisai untuk senjatanya. Mahasiswa kalimantan, warior prayer, pengunjung, serta penjaga stand ikut andil narsis dengan berfoto ria.

Penulis: Patrianto Galugu
Sumber: www.menginspirasi.com

0 comments:

Posting Komentar