Senin, 12 Mei 2014

RANNUNNA KAMATEANG Kebahagiaan dalam Kematian pada Gerak Tari


Gerak tari 'Rannunna Kamateang'. (Foto : Pramesthi Ratnaningtyas)

KEBAHAGIAAN dalam kematian atau dalam bahasa Toraja, 'Rannunna Kamateang' dimunculkan dalam tipe tari dramatik dan dramatari oleh Muzakkir Hakim SPd, di Auditorium Teater Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Yogyakarta, Rabu (27/11/2013). Pentas tersebut merupakan ujian penciptaan karya 3, semester 3 angkatan 2012 Jurusan Penciptaan Seni Tari, FSP, Pascasarjana ISI Yogya.

Karya tari bersumber dari upacara Rambu Solo' Dirapai' bagi suku Tana Toraja. Dalam penggarapan koreografi ini, tahapan proses Umbating (meratapi orang mati) dan Ma'badong (ungkapan rasa syukur dari lahir hingga meninggalnya yang mati) menjadi titik perhatian untuk dijadikan adegan dalam penciptaan karya tari 'Rannunna Kamateang'.

Dua hal ini diwujudkan dan divisualisasikan menjadi adegan awal dan adegan akhir. Jika secara berurutan akan terdiri dari Umbating, Ma'randing (pengantar dari arak-arakan), Ma'pasonglo (arak-arakan semua keluarga, terutama perempuan di bawah kain merah yang berjalan di sekitar desa untuk mengantarkan jenazah dari rumah ke pemakaman Rambu Solo'), Ma'tapia (penghormatan bagi sang mayat dari para cucu) dan Ma'badong.

Tari tersebut mengeksplorasi gerak tradisi Toraja dalam konteks kontemporer yang bercirikan pengolahan tubuh. Selain itu, juga mengeksplorasi gerak realis sebagai penguat nuansa. Pengembangan ragam gerak Pa'langkang-langkang dalam tari Pa'gellu etnik Toraja menjadi bentuk baru dari gerak, persoalan, ruang, maupun ritmenya.

Diungkapkan Muzakir, upacara Rambu Solo' merupakan upacara kematian bagi etnis Toraja. Mereka menunaikan kewajiban dan tanggungjawab dengan memberikan pengorbanan materi yang tidak sedikit. Hal ini dilakukan karena mereka sangat menghormati budaya, tradisi, adat istiadat, dan agama.

"Hampir seluruh aktivitas kehidupan masyarakat Toraja yang berkaitan dengan mata pencaharian, pada akhirnya bermuara pada pelaksanaan upacara pemakaman Rambu Solo' secara terbuka sesuai kedudukan si mati dalam masyarakat, dan berdasarkan kemampuan seseorang (keluarga si mati)," tuturnya.

Umbating, lanjut Muzakir, merupakan adegan awal yang dimaksudkan untuk membawa atau mengajak penonton pada suasana upacara kematian itu sendiri. Upacara yang secara langsung mencerminkan kesedihan dari keluarga si mati. Hal tersebut bersumber dari upacara kematian yang selalu dikaitkan dengan kesedihan.

Sementara, Ma'badong selalu dihadirkan sebagai penutup upacara Dirapai' yang berisi nyanyian dan tarian sebagai ekspresi mengenang perjalanan hidup si mati. Divisualisasikan pada adegan akhir karya. Hal ini diasumsikan juga akan memberi penguatan atau penegasan akhir dalam rangkaian karya 'Rannunna Kamateang'.

"'Rannunna Kamateang' dihadirkan karena dalam upacara Rambu Solo’ tidak hanya kesedihan yang hadir. Namun, banyak kebahagian yang terjadi dalam melaksanakan upacara tersebut," ungkap Muzakir. (Mez)

Sumber: www.krjogja.com
http://krjogja.com/read/195354/kebahagiaan-dalam-kematian-pada-gerak-tari.kr

0 comments:

Posting Komentar