Sabtu, 05 Juli 2014

Tarian Male Sau' Puya ditampilakan di ISI Yogyakarta

Male sau' puya. Adalah satu kalimat Toraja yang sudah tidak asing lagi terdengar bagi masyarakat Toraja. Male sau' puya dapat diartikan kepergian seseorang (meninggal). Zhaki Hakim mahasiswa pascasarjana Institut Seni Yogyakarta Indonesia (ISI) membuat sebuah garapan tari dengan tema "Male Sau' Puya" yang kemudian dipentaskan di gedung fakultas seni pertunjukan ISI sebagai ujian akhir tanggal 24/06/2014. Menariknya karya ini melibatkan begitu banyak penari dan pemusik yakni 35 penari dan 9 pemusik. Kurang lebih 20 diantaranya adalah anggota IKAPMAJAYA yakni Zhyta Larasati Pala'langan, Aminda Bandaso Karurukan, Julianto Tumangke, Artur Pareang, Bintang Salempang, Edgar Marchiano La'lang, Elkyanus Pallullungan, Febriergi Linus Tipa, Gerardo Eqidius Iyuri Kala' Lembang, Ignatius Patulak, Jhon Leonardo S, Junianto, Maikel Kevin Lomo, Michael Daud Tonda, Muliono Daliapang, Novianto Arung Tinting, Oky Alfian Kalalinggi, Otniel Suandi Tappang, Rendy Lukas Renta, Septian P. Pumpun, Usia Rante Allo, Yonathan Talantan

Inspirasi Penulis
Penulis terisnpirasi tentang suatu warisan budaya tradisi yaitu ritual upacara pemakaman Rambu Solo’ yang berada di Kabupaten Tana Toraja, Provisnsi Sulawesi Selatan. Penata tari mengambil tema dari upacara Rambu Solo’ (Dirapai’) yaitu mengantarkan jenazah ke puya dengan memfokuskan prosesi Umbating (meratapi orang mati) dan Ma’badong (meratapi sekaligus menghormati). Pada upacara Dirapai’, Umbating (meratapi orang mati) dan Ma’badong merupakan dua bagian yang selalu dihadirkan. Kedua bagian ini menginspirasi penulis untuk menjadikannya sebuah karya tari.

Gagasan tari “Male Sau’ Puya”
Gagasan dalam menggarap tari berjudul “Male Sau’ Puya” sangat terkait dengan budaya orang Toraja dalam melakukan upacara pemakaman yang disebut Rambu Solo’. Di sini penata tari mencoba mengangkat upacara pemakaman Rambu Solo’ (Dirapai)’ tersebut dengan penekanan pada tahapan yang selalu dilakukan dalam upacara Rambu Solo’ (Dirapai’) yaitu Umbating (meratapi orang mati) dan Ma’badong, ke dalam garapan bentuk tari semi-tradisional dengan mengembangkan motif gerak tari Pagellu’, Ma’landing, dan Ma’badong.

Arti “Male Sau’ Puya”
Dalam penggarapan koreografi yang diberi judul Male Sau’ Puya yang berasal dari bahasa Toraja yang artinya menuju puya. Puya adalah tempat ketinggian, di gunung atau di langit yang dianggap sebagai tempat keabadian hidup setelah dunia nyata.
Umbating (meratapi orang mati) dan Ma’badong yang menjadi titik perhatian, divisualisasikan menjadi adegan kedua dan adegan kelima. Umbating hadir sebagai adegan kedua dimaksudkan untuk membawa suasana atau mengajak penonton masuk ke dalam suasana upacara kematian itu sendiri yang secara langsung mencerminkan kesedihan dari keluarga si mati. Sementara Ma’badong yang selalu dihadirkan dalam upacara Dirapai’, berisi nyanyian dan tarian sebagai ekspresi mengenang perjalanan hidup si mati, akan divisualisasikan pada adegan kelima. Penempatan Ma’badong yang memvisualisasikan gerak-gerak lambat dengan paduan vokal di adegan kelima dalam struktur karya ini, selain dimaksudkan untuk memberi kontras terhadap gerak-gerak yang cenderung cepat pada adegan dua, tiga dan empat juga sebagai adegan untuk mengatur stamina sebelum masuk kembali pada gerak-gerak yang cepat pada adegan ke enam.

Peristiwa yang ditarikan/adegan
Tipe dramatari dan dramatik yang sebagai penguat dalam karya Male Sau’ Puya selain prosesi Umbating (meratapi orang mati) dan Ma’badong berikut adegan lainnya sebagai adegan dalam mengantar jenazah menuju puya terdiri dari: (a) Arak-arakan keranda mayat; (b) Umbating; (c) Ma’pasilaga Tedong; (d) Ma’tapia’; (e) Ma’badong; dan (f) Ma’pasonglo.
Penyajian karya tari Male Sau’ Puya menggunakan motif gerak hasil pengembangan dari tari tradisi etnik Toraja yaitu tari Pa’gellu dan Pa’landing mengingat bahwa karya tari ini memfokuskan prosesi Umbating (meratapi orang mati) dan Ma’badong, serta prosesi Ma’tapia dan Ma’pasonglo dalam upacara pemakaman Rambu Solo’ (Dirapai’). Koreografi ini menggunakan busana daerah Tana Toraja yang sudah dimodifikasi untuk menyesuaikan artistik koreografi, meskipun tarian ini bertemakan upacara kematian, tetapi penata tari memilih menggunakan rias cantik agar penari putri tetap kelihatan cantik dan segarpada penari putrid. Sedangkan bagi penari putra, menggunakan rias natural agar tidak kelihatan pucat.

Bentuk Penampilan
Garapan karya tari ini menggunakan konsep stage proscenium sebagai ruang pertunjukan utama, agar penonton dapat melihat dengan fokus dari satu arah. Penaat juga sudah terbiasa dan lebih nyaman ketika menggarap tari dengan konsep keruangan seperti ini, karena dapat fokus disetiap bagian garapannya.


Berikut dokumentasinya

Penulis: Michael Daud T

123 Fakta Unik Mahasiswa Jogja

Bangun pagi nemu dan baca tulisannya CAHYOGYA.COM jadi ketawa-ketawa sendiri.hahhaaa.. Sebagian besar faktanya benar dab setelah coba dikondisikan dengan anggota IKAPMAJAYA. Maka kamu yg belum merasakan hal-hal ini cari lah tempat dan teman yg bisa membawa kamu merasakannya jika kamu tdk mau dicibir ngapusi perna kuliah di Jogja.


Kuliah di Jogja identik dengan kuliah di UGM, berkonvoi ramai-ramai bareng teman satu jurusan atau satu organisasi ke pantai atau makrab ke kaliurang. Itu merupakan sedikit gambaran bagaimana rasanya menjadi mahasiswa di kota Yogyakarta, baik itu mahasiswa perantauan atau asli Jogja hampir semua memiliki kesamaan dalam setiap aktivitas yang pernah mereka lakukan selama masa-masa kuliah, kalau menurut saya tulisan mengenai 123 Fakta Unik Mahasiswa Jogja dari bang ariesadhar ini sangat menyentuh sekali, bikin kita tertawa sendiri kalau ingat hal-hal yang disebutin. Kalau kamu mahasiswa jogja atau calon mahasiswa Jogja wajib baca artikel ini.

1. Mahasiswa Jogja adalah lulusan sekolah menengah (ya iyalah!)

2. Mahasiswa Jogja justru lebih banyak yang tinggal dan kuliah di Sleman
Faktanya: Angelina Pangala, Suhartati Mentari, Surya etc
3. Atau Bantul
Faktanya: Reza, Anno, Indri na senga'2 na..
4. Dan tetap ngaku-ngaku kuliah di Jogja!
5. Sebagian mahasiswa Jogja adalah perantauan
yah iyalahh
6. Baik itu merantau dari Muntilan
7. Atau Sintang
8. Atau bahkan dari Merauke
9. Hingga Filipina
10. Sebagian mahasiswa Jogja yang perantauan adalah lulusan SMA-SMA yang juga ada di Jogja
11. Jadi intinya mereka merantau sejak SMA
12. Pada intinya mereka gagal move on
13. Tak bisa ke lain kota
14. Mahasiswa Jogja yang perantauan umumnya mudik waktu libur semester

15. Atau pada libur lebaran
16. Kecuali mahasiswa yang kere (kayak saya dulu)
17. Makanya, kalau libur lebaran, daerah kampus sepi nyenyet
18. Padahal Malioboro macet total
19. Sebagian mahasiswa Jogja datang tanpa pengetahuan bahasa Jawa
Tongan to..
20. Jenis mahasiswa yang ini adalah korban jebakan betmen boso jowo
21. Semisal, “Kulo segaw*n”
22. Atau, “Ayo, k*nt*”
wuanjriittttt
23. Sebagian mahasiswa Jogja tempoe doeloe pernah ke lantai atas gedung perpus UGM, cuma mau kirim-kirim salam di Swaragama
24. Atau SMS kirim-kirim salam ke Geronimo
25. Mahasiswa Jogja pasti familar dengan soundtrack acara memori di Yasika
26. Dan juga tagline GCD FM Bukit Pathuk Gunungkidul, radio yang sebaiknya anda tahu! Ting tung ting tung!
27. Harap maklum, hanya punya radio sebagai hiburan di kos-kosan
28. Sebagian kecil mahasiswa Jogja yang perantauan tinggal di rumah saudaranya
29. Sebagian besarnya kos
30. Ada yang juga di asrama

31. Yang jelas nggak ada yang nginep di hotel
32. Oh, kecuali yang mahasiswa S2 ya!
33. Sisanya, tentu saja asli Jogja
34. Yang asli Jogja umumnya pernah tidur siang di kos-kosan temannya
35. Atau nginep
36. Yang ngekos pernah numpang makan di rumah temannya
37. Atau numpang tidur

38. Ehm, selain di kos-kosan teman, kadang-kadang juga di kos-kosan pacar
39. Bisa dilihat dari hadirnya sandal wanita di kos pria
40. Dan sandal pria di kos wanita
41. *kenyataan memang kadang bikin geleng-geleng*
42. Belum sah jadi mahasiswa Jogja kalau belum pulang dinihari
43. Dengan alasan, “dolan!”
44. Mahasiswa Jogja pasti pernah makrab di Kaliurang

45. Atau sekitar Kalikuning
46. Ya pokoknya ngadem di kaki Merapi
47. Mahasiswa Jogja pernah ke pantai

48. Biasanya sih naik motor rame-rame
49. Mahasiswa Jogja pasti tahu Terban
Boce ahlihnya 50. Dan juga Shopping
51. Atau setidaknya Toko Buku Social Agency
52. Yang nggak pernah ke 3 tempat itu, pasti anak horangkayah
53. Mahasiswa Jogja pasti pernah ke Sunday Morning
54. Kalau nggak? Nggak gaul
55. Padahal cuma ngeceng doang
56. Mahasiswa Jogja, utamanya yang lelaki, pasti pernah ke burjo
57. Bahkan kenal dengan Aa burjonya
58. Kadang malah punya nomor HP Aa-nya
59. Lalu galau waktu Aa-nya mudik lebaran bisa sampai 2 minggu
60. Mahasiswa Jogja, pasti pernah ke angkringan
61. Bahkan kenal dengan Mas-Mas Angkringannya
Pa' TRI is the best
62. Kadang malah punya nomor HP Mas-Mas-nya
63. Mahasiswa Jogja pernah kalap pesan makanan di angkringan
64. Tapi pernah pesen teh anget segelas, terus ngobrolnya 4 jam
65. Mahasiswa Jogja mestinya tahu angkringan Tugu
66. Termasuk kopi joss-nya!
67. Mahasiswa Jogja pasti tahu kepanjangan dari Intel Goreng
68. Atau Tante Rebus
69. Kalau nggak tahu, pasti juga anak horangkayah
70. Mahasiswa Jogja masa lalu pasti heran dengan ramainya selokan Mataram sekarang
71. Mahasiswa Jogja masa kini pernah makan di salah satu destinasi di sepanjang selokan Mataram
72. Mahasiswa Jogja selalu nongkrong di fotokopian pada masa menjelang ujian
73. Tidak semua mahasiswa Jogja pernah ke Gembira Loka
74. Tapi hampir semuanya pernah ke Alkid
75. Sebagian mahasiswa kere akan mampir beli awul di Sekaten
76. Sebagian mahasiswa Jogja pernah foto berlatar Tugu
77. Kalau mahasiswa Jogja jadul pernah duduk di Tugu
78. Yang masa kini iri hati, soalnya udah nggak boleh
79. Belum afdol jadi mahasiswa Jogja kalau belum pernah kena cegatan
80. Ketiklah ‘fakta mahasiswa jogja’ di Google dan yang keluar kebanyakan tentang seks bebas
81. Mahasiswa Jogja nggak pernah pesan ‘es teh manis’
82. Karena di Jogja ‘es teh’ sudah berarti ‘es teh manis’
83. Sebagian mahasiswa Jogja memulai karier enterpreneur-nya sewaktu kuliah
84. Mahasiswa Jogja memenuhi antrean ATM di kampus-kampus pada tanggal muda
85. Mahasiswa Jogja kepepet akan mendatangi ATM 20 ribu
86. Selalu ada mahasiswa Jogja yang ke kampus dengan naik sepeda
87. Dan selalu ada yang ke kampus dengan diantar supirnya
88. Adalah mahasiswa Jogja tempoe doeloe jika masih berangkat kuliah naik angkot warna kuning
89. Mahasiswa Jogja yang dari rantau, kebanyakan stres pada makanan Jogja
90. Soalnya rata-rata manis
91. Kayak kamu! #eh
92. Apalagi mahasiswa Jogja yang berasal dari Sumatera atau daerah lain yang terbiasa dengan makanan gurih
93. Kalau mahasiswa Jogja ditanya “kuliah dimana?”, lalu dijawab “Jogja!”, pasti dikira kuliah di UGM
94. Padahal ada banyak universitas, institut, akademi, dan sekolah tinggi di Jogja
96. Ya mau gimana lagi, udah trademark-nya sih
97. Buku Oom Alfa adalah cerita seorang mahasiswa Jogja #faktapenting2014
98. Sepeda motornya mahasiswa Jogja bervariasi mulai dari Pitung sampai Ninja dan CBR terbaru
99. Sebagian mahasiswa Jogja pernah bikin duplikat kunci di dekat De Britto
100. Kalau pas orangtua datang ke Jogja, pasti ujung-ujungnya adalah jalan-jalan ke Malioboro
101. Atau Candi Prambanan
102. Atau Borobudur
103. Yang jelas bukan ke Sarkem
104. Sebagian mahasiswa Jogja tahu tempat dugem
105. Tapi nggak pernah masuk, soalnya kere
106. Selalu ada mahasiswa Jogja yang sampai lulusnya nggak bisa ngomong pakai bahasa Jawa
107. Kalau udah mau lulus, mahasiswa Jogja mendadak mellow saat mendengar “Yogyakarta”-nya KLA Project
108. Sudahlah jauh-jauh ke Jogja buat sekolah, tapi kadang kalau nyari dana malah kudu NGAMEN!

109. Lokasi ngamen favorit adalah sekitar Jakal atau Sunmor
110. Atau tempat lain yang punya tempat makan berderet-deret
111. Biasanya ngamennya keroyokan alias rame-rame
112. Makanya pengamen di Jogja yang ramean itu kece-kece, lha mahasiswa je!
113. Mahasiswa Jogja ngerasa paling kece kalau sudah ke Alkid lalu foto pakai sepeda tandem
114. Atau ngerasa paling update kalau sudah melakukan tradisi “Masangin”
115. Itu loh, jalan dari satu beringin ke beringin lain dengan mata tertutup
116. Saking populernya, sampai ada penyewan tutup mata segala
117. Kalau pas 16 Agustus malam, mahasiswa Jogja yang ngekos bakal kelaparan karena pemilik warung makan dan angkringan pada Tirakatan
118. Mau ke McD nggak punya duit pula
119. Mahasiswa Jogja kalau kefefet pasti beli bensinnya eceran
120. Cuma seliter pulak!
121. Tidak ada mahasiswa Jogja yang tidak tahu Toko Merah
122. Tapi kayaknya nih, 80,3% mahasiswa Jogja belum pernah ketemu Sultan
123. Seperti kata Anies Baswedan, bagi yang pernah hidup di Jogja, pasti merasa bahwa setiap titik di Jogja adalah romantis! Jogja memang selalu istimewa.
Sumber: http://www.cahyogya.com/2014/05/123-fakta-menarik-tentang-mahasiswa.html?m=1

Jumat, 04 Juli 2014

Penyambutan dan Malam Keakraban IKAPMAJAYA 2014

"Penyambutan dan Malam keakraban" salah satu hal yang dinanti-nantikan setiap pergantian tahun ajaran

Beberapa tahun terakhir ini IKAPMAJAYA dapat satu kegiatan yang wajib dilaksanakan karena momennya yang sangat dinanti-nantikan mahasiswa baru maupun mahasiswa aktif, apakah itu? mari kita putar waktu kita ke dua tahun lalu.

Dua tahun yang lalu tepatnya tahun 2012, IKAPMAJAYA mengadakan acara penyambutan dan malam keakraban bersama teman-teman toraja yang berasal dari berbagai kota di Yogyakarta. Dibawah kepanitiaan Inazt Patulak (ketua),  yang saat itu memimpin sebagai ketua panitia pelaksanaan acara ini menjadi momen yang sangat istimewa. Dengan perjuangan yang cukup pelik teman-teman panitia melaksanakan pencarian dana yang cukup menguras tenaga, berbagai susunan acara juga disiapakan, hingga akhirnya acara puncak yang berisi acara-acara seru nan menghibur teman-teman yaitu outbound bersama. Untuk kepanitiaan ini apresiasi yang besar tentunya didapatkan dari BPH IKAPMAJAYA sendiri serta peserta-peserta yang turut hadir dalam acara ini.
(Dokumentasi penyambutan dan makrab 2012 oleh panitia)

Berlanjut ke tahun 2013, IKAPMAJAYA mulai membentuk kembali kepanitiaan penyambutan dan makrab untuk yang kedua kalinya, berpatokan pada kepanitiaan sebelumnya yang meraih sukses besar maka kepanitiaan saat ini dengan semangat menggebu-gebu juga ingin sukses seperti tahun sebelumnya. Dan akhirnya rutinitas kepanitiaan pun mulai berjalan, mulai dari pencarian dana, penyusunan konsep, pendaftaran peserta, hingga acara berlangsung dengan sukses yang tidak kalah dengan kepanitiaan sebelumnya. Pada penyambutan dan makrab kali ini peserta yang hadir membeludak, alangkah senangnya kepanitiaan saat itu terlebih lagi BPH yang diam-diam dalam hati berteriak " Kita kedatangan anggota sebanyak ini, oh terimakasih Tuhan". Akhir kata kepanitiaan ini kembali sukses dengan acara yang mereka bentuk dengan tidak mudah.
(Dokumentasi Penyambutan dan Makrab 2013 oleh Panitia

Nah sekarang berlanjut lagi kita ke kepanitiaan penyambutan dan makrab tahun ini (2014), yang kebetulan sedang berjalan. Apa saja yang sudah mereka lakukan mari kita menanti dan melihat lebih jauh informasi persiapan dari teman-teman panitia.
Harapannya sih penyambutan dan makrab tahun ini bisa diselenggarakan dengan maksimal, dengan memastikan setiap waktu selama masa kegiatan terisi. Wacananya panitia akan melaksanakan kegiatan ini dengan sedikit berbeda dari sebelumnya yaitu dengan menyelipkan materi dasar kepemimpinan,tidak terlepas dari itu akan diadakan juga sharing tentang kehidupan akademik dikampus dan bagaimana kehidupan kemahasiswaan dalam hal ini bagaimana menjalin hubungan yang baik antar mahasiswa Toraja di Yogya dan juga dengan mahasiswa dari daerah lain. Oia ketua panitia tahun ini ada Arthur Pareang (STTNas 2011). Kita doakan persiapan seluru panitia dan rencana untuk menyukseskan kegiatan penyambutan dan makrab antar angkatan 2014 ini ya... Salam IKAPMAJAYA :D
Penulis: Hedwig